Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2016

Kumbang-kumbang Tanah Merah

tidak ada yang meminta kau datang, dan kau datang
kau pangku berton-ton rindu dan kau muntahkan kepadaku
doa-doa salam pagi kau terbangkan bersama merpati
syahdu; mengusik relung yang tenang, menjadi gemuruh

oh yah, pagi kemarin kopi terasa lebih manis dari biasanya
sedikit kental beradu pekat dengan lamunan akan masa lalu

lalu bagaimana tentang pagi ini?
tentang bunga yang terkapar di pusara
yang mati konyol dilahap kumbang-kumbang tanah merah

dan -tetiba lengang saja semua
angin hilang genit kepada daun

jangan tanya tentang matahari
dia sembunyi di balik altar di rumah pemujaan
malu; kalah berpendar dengan lampu-lampu ruang kerja

pak tua, sudahlah, gumamnya
waktu yang telah kau kayuh, tak akan pernah kembali
lagi pula tidak ada yang meminta dia datang
mari; bersama dengan apa yang ada
maka selesailah
maka biarlah

Kepada Masa Lalu, Saya Mau Lagi

Iyah, beberapa hari ini saya merasa hilang semangat untuk mau ngapa-ngapain. Jika dianggap saya ini terjebak oleh kondisi yang menjenuhkan, saya setuju. Rutinitas yang kurang dinamis, bersinggungan dengan orang-orang yang berbeda selera, diperparah dengan rasa kopi dari warung sebelah kantor yang kian hari kurang enak. Fiuuhh.

Mungkin disebabkan oleh semacam rindu akan masa lalu yang penuh gairah. Masa ketika satu sama lain memiliki ide yang sama untuk membuat sesuatu dari yang tidak ada menjadi ada.

Seperti, menulis, lalu ramai-ramai kami menjadikannya sebuah buku. Seni peran, lalu ramai-ramai kami menjadikannya suatu pertunjukan teater. Naik gunung, lalu ramai-ramai kami berkemas dan mendaki. Belajar, lalu ramai-ramai kami membuat robot. Robot sungguhan tentu saja, karena saya menggeluti ilmu Robotika dan Artificial Intelligence (kecerdasan buatan) sewaktu kampus Gunadarma masih jelek, sekarang sudah bagus.

Yah, mungkin saya sedang rindu itu semua.

Sebenarnya saya tidak benar-benar …

Tentang Saya Yang Kemarin Ke Jakarta

Minggu kemarin ke Jakarta, bukan untuk urusan demo, meski ingin, tapi lebih keurusan menghamburkan uang yang tidak semestinya. Biaya sehat dan rindu itu memang mahal. Setidaknya begitu bagiku.

Oh yah, saya berkunjung ke Pluit, Luar Batang, tempat saya tumbuh dan dibesarkan dengan baik oleh ibu saya - yang sialnya tepat menjadi lokasi aksi ricuh sebagian massa yang menjarah dan merusak, tapi saya tegaskan, itu bukan dari warga atau teman-teman saya yang tinggal di Luar Batang, bahkan kami tidak tahu dari mana massa itu datang. Jika kalian menuduh kami bertindak anarkis dengan mencoba merusak rumah Pak Ahok, sebaiknya uji kembali cara anda bernalar. jika pun kami ingin, sudah dari kemarin kami lakukan ketika mencuat kasus reklamasi, tapi tidak, setidaknya tidak sekarang.

Betul, sikap sabar itu tidak ada batasnya, tapi tidak dengan batas toleransi.

Kami tegaskan, kami melawan bukan karena kami suka kekerasan, tapi lebih karena ingin membela hak kami, rumah kami, tanah kami, saudara kami,…

Jakarta Terlalu Bising Untuk Menuju Kota Yang Beradab

Drama pemilihan tuan Gubernur mengerucut menjadi sentimen agama, bagaimana tidak? Berceloteh di  mimbar demokrasi menyinggung ayat-ayat Tuhan kepada mereka yang berbeda kelas sewaktu belajar agama dengan para Profesor penafsir ayat. Tak ubah seperti halnya mengajari anak-anak bermain game di gadget, karena yang mereka tahu hanya menggunakan tanpa harus tahu bagaimana permainan itu bisa ada.

Tuan Gubernur Jakarta, jangan terlalu memaksakan mimpimu membangun kota agar menjadi lebih sedap dipandang mata, kota yang bersih, indah dan tertata tanpa sempat memikirkan bagaimana membangun manusianya terlebih dahulu.

Dia lupa tentang Jakarta, kota yang terlalu bising untuk menuju kota beradab, bahkan sandal hilang di masjid saja, seluruh nusantara harus tahu berita itu.

Sudahlah tuan Gubernur, jangan memperkeruh!! Cita-citamu mungkin baik, menawarkan janji-janji masa depan kota yang modern, tapi kau lupa, kota itu dihuni oleh sebagian besar orang-orang yang hijrah dari desa, dengan kultur relig…

Enggak Enakan

Yup, ada beberapa jenis manusia yang memiliki rasa sungkan, berat hati, atau nggak enakan yang besar dengan orang lain. Semisal, lu diminta tolong untuk mengerjakan suatu hal dengan kesepakatan pembayaran namun ketika waktu kesepakatan tiba, mereka seolah lupa atau pura-pura bego atau pura-pura mati, entahlah, dan lu merasa sungkan atau nggak enakan untuk menuntuk hak lu tersebut.

Sekali atau dua kali mungkin bisa dimengerti dengan alasan lupa, dan karena kenal jadi anggap saja bantu temen, tapi jika sering kali sepertinya kok merasa dimanfaatkan yah?

Mau minta hak, sungkan, nggak diminta --kok yah --kita juga butuh. Buah Simalakama. Sejujurnya sih, kalo ketemu orang atau partner kerja yang beneran cuek dengan kewajiban-kewajiban mereka ada baiknya sih jangan dibantu lagi.

If you're good at something never do it for free!!

Menuju Masyarakat Ekonomi Asean (MEA)

Brexit atau Britain Exit tentang referendum masyarakat Inggris yang ingin keluar dari liga Eropa (MEE - Masyarkat Ekonomi Eropa). Wuih, bahasannya kali ini ngeri, sok nginternasional. Intinya sih mereka nggak mau diatur oleh orang-orang luar, baik dari sisi ekonomi, politik dan tetek bengek lainnya dan karena secara signifikan nggak ada manfaatnya buat saya, jadi yah abaikan saja.

Kalo di Asean ada MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) jadi siapa saja bisa bekerja di mana saja selama dalam ruang lingkung MEA. Nah, kali ini mau saya sangkut-pautin dengan perjalanan saya ke perusahaan sawit punya orang China saya rasa, di Mantangai Kapuas Kalimatan Tengah.

Singkatnya, saya diminta menjadi konsultan dalam bidang IT untuk pemasangan jaringan CCTV berbasis IP Nirkabel di perusahaan mereka. Dengar yah, sebagai konsultan !!

Siapalah saya ini jika dihadapkan dengan mereka para IT dari China lulusan Universitas yang entah apa namanya di Beijing, China sana, yang ternyata dengan sedikit minder saya pa…

Awalnya Biasa Saja

Membaca berita jika hanya sekedar membaca tanpa dipelajari secara detail dari sumber-sumber lain yang lebih valid mbok yah jangan dishare. Maksud saya begini, bukan rahasia umum lagi bagi oknum-oknum media yang suka memanfaatkan situasi yang sebenarnya hal sepele tapi diblowup seakan-akan dunia akan kiamat.

Dan yang lebih parah lagi, mereka para oknum media membuat sesuatu yang seharusnya tidak ada atau biasa saja, lalu diadakan, diluarbiasakan, diberitakan kemudian brengseknya ada bagian dari mereka yang menyerang berita mereka sendiri. Keuntungannya apa? jelas di masyarakat akan menimbulkan pro dan kontra. Namun bagi mereka persetan dengan hal pro dan kontra, yang penting berita mereka menjadi headline, mereka menang.

Sialnya nggak sampai situ, orang-orang yang umumnya terkenal di jagat permediaan baik itu artis, musisi, selebtwit, agamawan, mereka membaca berita tersebut, mengaitkan dengan hal-hal lainnya seperti agama, adat, etika, moral dan lain sebagainya tanpa melakukan metode …

Aku. Terjerat di Matamu

Kembali layar pertunjukan dibuka, lakon-lakon siap diterbangkan, naskah bertebaran menjelma sabda -riuh diiringi kutukan-kutukan akan karma. Kau, termangu di sudut pilar gedung, sesekali mengurai rambut yang tipis, angin sedang menggodamu rupanya.

Anjing hitam mendengus, menjulur-julur lidah, memicingkan mata yang sesekali melirik menuju sintalnya tubuhmu.

Neraka telah datang dalam rupa yang paling seksi, fragmen baru saja dimulai, penonton hening, tidak peduli gemuruh pelataran, merea terlalu sibuk dengan kutu-kutu yang ada di kursi mereka. Anjing hitam bangkit dari imajinasi, lakonnya telah selesai walau belum dimulai. Kau, masih saja termangu, tidak sedikitpun menggubris bau busuknya kesepian.

Aku.  Terjerat di matamu.

Kadang Saya Heran

Ada benarnya kata para pebijak, tidak semua niat baik bisa diartian baik, menempatkan sesuatu pada tempatnya tidak  juga selalu benar, ini tentang persepektif. Saya jadi ingat cerita tentang seekor kera yang mencoba menyelamatkan ikan yang sedang tenggalam.

Kadang saya heran, bagaimana menempatkan sesuatu dengan baik dan benar tanpa harus merugikan orang-orang terutama sahabat atau keluarga. Sialnya, tidak ada sesuatu pun yang bebas dari nilai, sudah hukumnya memang seperti itu, subjektif, karena sebenar-benarnya Tuhan selalu saja ada orang yang menganggapnya salah.

"all you need is love"

Ah, sepenggal lirik The Beatles seharusnya bisa dijadikan ayat suci paling tinggi bagi kita, namun sayangnya orang-orang yang menganggap dirinya penting tidak mengerti itu.

Hidup Mereka Bukan Urusan Gue!!

Jika kerja hanya sekedar kerja, keledai juga kerja. Jika hidup hanya sekedar hidup, kera juga hidup - Buya Hamka
Suka aja sama quotenya, sederhananya sih manusia itu harus inovatif, i-n-o-v-a-t--i-f -nggak melulu ngerjain yang itu-itu terus. Hidup ngga sepasif itu Bro!! Sesekali coba bunuh sikap nyaman, keluar dari kandang idealis elu, mau maju yah bergerak, Masa iya nunggu ditarik macam keledai baru mau maju?

Bagi gue, rasa nyaman itu candu, semakin nyaman semakin ketagihan, sisi baiknya sih elu aman dari resiko, sisi buruknya, elu jadi kerdil.

Ah, bodo amat apa kata orang, yang penting gue nyaman!! Ngapain juga gue harus mikirin ini dan itu, hidup mereka toh bukan urusan gue!!

Keledai !!

Gunadarma 2002

Mengutip tulisan dari sahabat lama  "Akan ada satu titik di mana kamu harus melihat ke belakang" Tetiba langsung merasa berdosa, merasa terintimidasi oleh kenangan masa lalu, sahabat-sahabat seperjuangan yang tanpa mereka --aku tidak akan pernah menjadi saat ini. Ah, ini tentang kita dan kampus, tentang masa-masa idealis, melawan arus.

Satu sahabat telah pergi, menuju tidur panjangnya yang abadi, Reno Teguh, selamat tinggal kawan. Banyak sekali yang ingin aku tulis tentangmu, namun biar kusimpan saja, aku janji,  akan aku ceritakan tentang dirimu kepada anak-anakku kelak.

Betapa sombongnya aku kawan, menjalani kehidupan baru yang hedonis --justru melupakan banyak hal yang tidak kalah pentingnya dengan masa lalu. Ah, aku rindu gelak tawa dan kekonyolan-kekonyolan waktu dulu, di kampus, Gunadarma.

Don't Grow Up, It's a Trap !!

Aduh, emosi lagi kurang stabil bener dah ah, orang-orang sekitar ngeliat si Saya ini bawaanya seneng terus, tanpa ngeliat dari sisi yang lain. Ngerti aja sih saya, sebagian dari mereka belum menikah, atau sudah menikah tapi jauh dari kesibukan menjadi bapak rumah tangga. Kalo mereka udah selesai kerja, sampai rumah terserah mau ngapain, mau tidur sambil jungkir balik kek, mau jungkir balik sambil berak kek, bebas gak ada tuntutan lain.

Lha gue, boro-boro mau santai sejenak, sudah di kerjaan schedule banting tulangnya terpampang jelas, customer nuntutnya kayak jaksa penuntut umum pula, iyah kalo satu, dua urusan kerjaan sih masih bisa kehandle, ini hampir semuanya dengan atas nama PROFESIONALITAS.. TAS.. TAS!!

Belum lepas dari kesibukan jadi pekerja, harus jadi sopir yang taat dengan waktu lalu pulang ke rumah dengan wajah yang seolah baik-baik saja --kembali harus berjibaku dengan kerjaan menjadi bapak rumah tangga, yah nyebokin anak abis beraklah, denger keluhan tentang ini dan itula…

Tere Liye 60 Menit 25 Juta

Hasil tulisan itu subjektif sih yah, seperti buku-buku dan tulisan-tulisan Tere Liye, ada yang sebagian gue suka tapi orang lain kagak, pun sebaliknya. Kenapa begitu? Yah emang begitu, masa selera mau dipaksain harus seragam, gile luh Ndro!!
Masih menyangkut Si Tere Liye itu yang konon (jangan dibalik) memasang tarif 25 jeti sebagai pembicara dengan durasi 60 minutes. Dengan jam terbang dan keahlian yang dia punya menurut gue sih itu wajar, pun beberapa bukunya pernah menjadi best seller.
Gue aja dengan keahlian yang gue punya, nggak mau dibayar rendah, ilmu itu mahal sob!! Emang elu mau semisal masuk kerja dengan derajat, keahlian dan jam terbang yang sudah mumpuni terus digaji rendah, kalo mau, artinya elu itu bego!!
The intinya sih, if you're good at something never do it for free (Joker). Kelas pelacur aja punya tarif berbeda Bro.. Bro!!

London Love Story, Apa Itu Yah?

Duh, sebetulnya gue hendak mereview film London Love Story namun apa daya, belum nonton filmnya, nggak terlalu minat juga sih, alhasil yah nggak jadi nulis review film yang ntu tuh. Terus gue mau review apa dong? Dead Pool, ah sudah diceritain sama si cinta sekamar setidur gue. Review Joox.com aja.

Apa itu Joox.com, buka aja keleus, pokoknya situs tersebut selalu menjadi situs perdana ketika gue tiba dikantor yang tentunya gue sudah sarapan ketika buka situs itu. Yah, menurut gue sih, buka Joox sambil nyeruput kopi --itu enak. Kenapa enak? karena ngopinya bisa ngutang, pun dibayarnya bisa kapan aja? Internetnya pun kantor yang bayar, enak toh!!

Apa lagi yah, oh yah, ada Acong yang suka minta ini itu kalo gue buka Joox, terus dia ngegelinjang nggak jelas sendiri di mejanya, ada sih keinginan untuk ngebunuhnya kala itu, tapi kalo inget adeknya si Nikita yang lagi skripsi itu, gue jadi nggak tega ih.

Joox membuat suasana kantor menjadi lebih rilek, syahdu, hingar, panas, dingin, merdeka,…

Sitai

Rasanya ingin banget nabok orang yang suka ngomong "lo enak punya ini punya itu, mau ini mau itu tinggal beli" Rrrrr.....
Lha, sekarang hidup elo merasa susah, terus gue disalahin, masa muda elo kemana aja Bro? Jangan lihat gue yang sekarang, tapi lihat seanjrit apa hidup gue dulu Bro? Hidup tiga tahun di hutan Papua itu bukan perkara gampang!!  Apa yang gue lakuin dahulu, sedikit banyaknya menentukan apa yang gue terima hari ini, begitu juga elo!! Seleksi alam namanya.
Dari pada elo ngurusin isi dompet orang, mending urus isi dompet sendiri, duit jangan diendapin di bawah bantal. Mencari legitimasi itu gampang, banyak-banyakin sedekah, berbagi sama mereka yang butuh, sering-sering nraktir temen, ntar juga orang-orang tahu kalo elo punya banyak duit. Yah perkara jumlah banyaknya berapa itu tergantung standar rasa sukur sih.

Pendukung Seks Normal (PSN)

LGBT. Hmm, ada yang bilang bawaan dari genetika, aneh rasanya, masa ada orang lahir langsung jadi homo atau lesbi, pasti ada proses yang membentuknya menjadi seperti itu. Pliss deh, mbok yah jangan bikin Tuhan makin marah, udah dilarang, udah diperingati lewat kisah kaum Sodom dan Gomora, eh demi ego --atas nama cinta semua jadi halal, duh, anjing aja tahu mana jantan mana betina.

Gue nggak benci, gue kasihan, kasihan sama keluarganya, kasihan digunjingi orang-orang sekitar, kasihan disumpahi masyarakat. Jika perilaku seksnya nggak normal, yah diem-diem aja kek gitu, ini justru penyimpangan seksnya dipublish, bikin resah aja, bikin malu orang tua, minta dukungan pemerintah pula, kan bego.

Orang Gila Saja Mengerti

Ada teman bertanya kepadaku seperti tidak terima "Kenapa kau pukul dia?"
"Terkadang ada beberapa orang yang perlu dijelaskan dengan tangan agar dia mengerti" Jawabku

Ini bukan tentang kekerasan, ini tentang cara paling tepat untuk menjelaskan keadaan, tentang beratnya beban yang harus saya topang hingga akhirnya kupercayakan dia untuk menjadi jalan keluar dari setiap masalah saya --yang ternyata dia justru lebih dalam menikam.

Dengar kawan!! Dulu, ada orang gila menggodaku di jalan dekat rumah, lalu aku usir orang gila itu dengan cara yang baik, namun tidak didengarkannya, aku marahi orang gila itu dengan keras, tidak juga dipahaminya, lalu aku pukul orang gila itu dengan kayu, dan akhirnya pun dimengerti.

"Lalu setelah kau pukul, apakah dia akan mengerti" Gerutu kawanku
"Orang gila saja akan mengerti jika dipukul, andai dia tidak juga mengerti, entah sebutan apalagi yang layak untuknya" Sindirku

Yah, terkadang ada beberapa orang yang perlu dije…

Jakarta, Boleh Aku mengganggu Mimpimu?

Landing dengan baik di Jakarta, pintu pesawat terbuka, jutaan kenangan bertabrakan, berebut tempat di lamunanku. Yah,  tentang cinta yang dulu pernah kita hidupkan bersama. Sialnya, desing kendaraan dan bau knalpot busway membawa kembali cerita tentang kamu yang begitu manja bermain di dadaku yang tidak bidang.

Yah, Jakarta bagiku jauh lebih jenaka dari hanya sekedar tempat bersenang-senang, banyak hal yang terlibat, hati yang tumbuh, rindu yang bermekaran, mimpi yang kemudian mati tanpa jasad.

Sederhana pintaku, malam ini, boleh aku mengganggu mimpimu?

Wekk.. Wekk.. Wekk..

Wekk... Wekk.. Wekk..

"Sayang, itu suara ayam yah?" Ucapnya mesra.
"Bukan sayang, itu suara bebek!!" Kutegaskan.
"Ih, itu suara ayam sayang!!" Kembali dia menekankan, mencubit pipitku manja.
"Iyah sayang, itu suara ayam" Jawabku senyum, sambil mengurai jilbabnya.

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kupikir terlalu dangkal --mereka yang mengukur hubungan hanya dari benar dan salah, terlebih dari siapa menang dan kalah. Cinta tidak sepicik itu. Ukurlah esensinya dari mana yang lebih tinggi, hatimu atau egomu?

Resolusi 2016: Mau Nonton AADC-2

Yeay, selamat tahun baru, selamat tinggal 2015 yang menyenangkan dan selamat datang 2016 yang semoga penuh berkah. Aamiin.

Resolusi tahun ini nggak mau muluk-muluk, cukup ingin jadi pemimpin yang amanah, tidak harus jadi Presiden sih, jadi Ketua RT dulu bolehlah, saya mau menggalakan lingkungan bersih dari sampah, najis, dan kotoran serta membangun gapura yang kokoh --yang mampu menahan serangan dari Alien dan Zombie. Halagh, opo iki!!

Intinya ditahun ini saya sangat ingin melanjutkan studi Bahasa Inggris saya yang terbengkalai ditahun kemarin. Cari duit yang banyak, disisihkan sebagian kepada yang membutuhkan, sebagiannya lagi akan saya pakai untuk foya-foya (ditabok cinta). Oh yah satu lagi, saya mau nonton AADC2, titik !!

Dan intinya lagi dari sebenar-benarnya adalah saya nggak mau direpotin sama resolusi ini dan itu, karena senyummu lebih dari cukup untuk membuat saya bahagia luar biasa dari waktu ke waktu. Jreeeeng!!

Tuhan Sedang Bernyanyi -Mungkin

Malam tadi aku bercerita kepada Tuhan, tidak menangis, isak saja, aku ceritakan tentang dirimu, tentang kita, tentang ketakutanku akan kehilanganmu. Sepintas senyum ibu singgah di sujudku, senyum terhangat yang pernah kulihat, sapaan termanis yang pernah kudengar.

Kini aku bersamamu, doa-doa melayang di ruang tempat kita bercanda dan aku benar-benar takut kehilanganmu. Gemetar rasanya lidah ini menyebut namamu di hadapan Tuhan.

"Jangan biarkan dia pergi dari pelukku, Tuhan!! Jangan!!" Pintaku lirih

Adzan shubuh menari di telinga, embun tergenang di atas rumput, hening sekali pagi ini, begitu tenang, begitu khusyu, harmoni terindah, Tuhan sedang bernyanyi -mungkin.