Langsung ke konten utama

Awalnya Biasa Saja

Membaca berita jika hanya sekedar membaca tanpa dipelajari secara detail dari sumber-sumber lain yang lebih valid mbok yah jangan dishare. Maksud saya begini, bukan rahasia umum lagi bagi oknum-oknum media yang suka memanfaatkan situasi yang sebenarnya hal sepele tapi diblowup seakan-akan dunia akan kiamat.

Dan yang lebih parah lagi, mereka para oknum media membuat sesuatu yang seharusnya tidak ada atau biasa saja, lalu diadakan, diluarbiasakan, diberitakan kemudian brengseknya ada bagian dari mereka yang menyerang berita mereka sendiri. Keuntungannya apa? jelas di masyarakat akan menimbulkan pro dan kontra. Namun bagi mereka persetan dengan hal pro dan kontra, yang penting berita mereka menjadi headline, mereka menang.

Sialnya nggak sampai situ, orang-orang yang umumnya terkenal di jagat permediaan baik itu artis, musisi, selebtwit, agamawan, mereka membaca berita tersebut, mengaitkan dengan hal-hal lainnya seperti agama, adat, etika, moral dan lain sebagainya tanpa melakukan metode pendekatan yang lebih spesifik, dan apesnya mereka memberitakan kembali atas nama label dan gelar mereka masing-masing.

Semua mengerucut menjadi debat kusir pro dan kontra antara mereka, masyarakat dan negara dibuat bingung, sesungguhnya mana yang benar dan yang salah. Padahal awal mulanya itu hanya berita biasa-biasa saja dan sering terjadi.

Sebut saja berita pedagang warteg di bulan Ramadan, berita jalur independen sang gubernur, berita LGBT, berita mengenai aliran agama baru, berita mengenai perbedaan tanggal pada hari raya, ucapan natal, berita koruptor dan lain sebagainya yang ternyata semua itu toh bukan berita baru bagi masyarakat dan biasa-biasa saja menurut saya.  

Saya bertanya, tidak adakah berita baik di negara ini yang bisa diberitakan secara luas dan masif kepada masyarakat? Berhentilah menyampaikan kebenaran jika tahu hasilnya hanya membuat perpecahan!!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Setting Alarm Sistem Merk Yomiko

Tetiba seperangkat alat alarm sistem buat client sudah tiba di kantor, awalnya bingung bijimane setting nih barang. utak-atik jebret.. jebret.. akhirnya bisa juga. Sebelum masuk ke konfigurasi, saya jabarkan satu persatu deh nama dan fungsi dari tiap-tiap item.

Jeli Sebelum Mengadili

Di acara Media Relation yang diselenggarakan BPK Perwakilan Provinsi Kalimantan Tengah dengan tema "Mengawal Harta Negara" Kamis kemarin, saya menyaksikan beberapa rekan-rekan wartawan masih banyak yang salah kaprah menilai tugas dan fungsi BPK. Dari beberapa pertanyaan para rekan wartawan, mereka menganggap BPK adalah lembaga penegak hukum yang bisa mengadili benar atau salah seorang pejabat atau instansi negara. 
Pertanyaan dari salah satu wartawan yang juga dimuat di situs berita mereka yaitu: BPK yang belum bersikap terkait sumbangan pihak ketiga yang masuk ke kas dearah, apakah termasuk sumbangan liar? Adakah regulasi yang mengatur hal tersebut?
Sebelum lebih jauh, mungkin perlu diingat lagi, tugas utama BPK adalah memeriksa pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan negara yang telah dipakai oleh suatu instansi atau lembaga negara. Apakah (secara akuntansi) pengelolaan keuangan tersebut sudah wajar  atau masih banyak penyimpangan transaksi yang terjadi. 
Jadi terkait…

Menuju Ibukota Negara

Melihat tim kajian dari pusat terkait pemilihan Kalimantan Tengah menjadi ibukota negara sepertinya akan terealisasi. Banyak nilai positif dari Kalimantan Tengah untuk dijadikan sebagai ibukota negara; struktur geografi yang memadai -baik dari sisi luas tanah maupun minimnya intensitas bencana. Namun yang utama adalah faktor sosial kemasyarakatan. Penduduk asli Kalimantan Tengah adalah orang yang terbuka kepada semua pendatang.
Namun saya juga memiliki ketakutan yang luar biasa terhadap hal tersebut. Bagi saya, pendidikan adalah menu utama kemajuan. Mereka yang tidak cukup pintar beradaptasi dengan perkembangan jaman maka akan berakhir di liang-liang sampah. Saya berkaca kepada penduduk asli Jakarta: Betawi yang tersingkir dan kian terpinggir; tergerus kemajuan pembangunan yang gila dan hedonis selama Jakarta menjadi ibukota negara.
Lebih jauh, bicara mengenai karakter, tidak semua orang -khususnya pendatang- mau memahami dan mengerti filosofi kearifan lokal. Tentang bagaimana seharu…