Langsung ke konten utama

Menuju Masyarakat Ekonomi Asean (MEA)

Brexit atau Britain Exit tentang referendum masyarakat Inggris yang ingin keluar dari liga Eropa (MEE - Masyarkat Ekonomi Eropa). Wuih, bahasannya kali ini ngeri, sok nginternasional. Intinya sih mereka nggak mau diatur oleh orang-orang luar, baik dari sisi ekonomi, politik dan tetek bengek lainnya dan karena secara signifikan nggak ada manfaatnya buat saya, jadi yah abaikan saja.

Kalo di Asean ada MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) jadi siapa saja bisa bekerja di mana saja selama dalam ruang lingkung MEA. Nah, kali ini mau saya sangkut-pautin dengan perjalanan saya ke perusahaan sawit punya orang China saya rasa, di Mantangai Kapuas Kalimatan Tengah.

Singkatnya, saya diminta menjadi konsultan dalam bidang IT untuk pemasangan jaringan CCTV berbasis IP Nirkabel di perusahaan mereka. Dengar yah, sebagai konsultan !!

Siapalah saya ini jika dihadapkan dengan mereka para IT dari China lulusan Universitas yang entah apa namanya di Beijing, China sana, yang ternyata dengan sedikit minder saya paparkan bla.. bla.. bla.. and than eng.. ing.. eng.. mereka sontak bengong, antara mengerti atau menganggap remeh saya atau bahasa linggis saya yang blepotan.

Tidak lama mereka berdiskusi entah apa, dan menyimpulkan bahwa presentasi saya membuat mereka bingung, intinya sih mereka mengatakan "apakah bisa diterapkan?"

I said "it's easy" saya jelaskan ke hal paling dasar dalam dunia networking yaitu tentang subnetting atau pemetaan devices berdasarkan alamat IP dan mereka masih tercengang seraya tidak percaya.

Kesal, saya remote server di kantor di Palangka Raya dan saya tunjukan bagaimana CCTV IP yang pernah saya pasang di beberapa tempat itu bekerja dan bisa di monitoring dari mana saja bahkan dari China sekalipun.

General Manager, Mr. Jam berdiri dan berkata "Ok" kami berikan project ini kepada anda.

Sebenarnya bukan persoalaan project goal atau tidaknya? tapi mereka itu bisa dikatakan kaum intelektual dari negeri tirai bambu sana yang notabanenya sangat mengerti hal-hal IT namun kenyataannya di luar ekspetasi saya.

Kesimpulan dari tulisan ini sih sebenarnya adalah pesan kepada orang Indonesia untuk tidak harus takut bersaing dengan orang luar menghadapi pasar global atau MEA. Saya ingat satu tweet dari Kang Onno W Purbo bahwa IT Indonesia adalah kiblat bagi negara Asean atau Asia bahkan dunia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Setting Alarm Sistem Merk Yomiko

Tetiba seperangkat alat alarm sistem buat client sudah tiba di kantor, awalnya bingung bijimane setting nih barang. utak-atik jebret.. jebret.. akhirnya bisa juga. Sebelum masuk ke konfigurasi, saya jabarkan satu persatu deh nama dan fungsi dari tiap-tiap item.

Jeli Sebelum Mengadili

Di acara Media Relation yang diselenggarakan BPK Perwakilan Provinsi Kalimantan Tengah dengan tema "Mengawal Harta Negara" Kamis kemarin, saya menyaksikan beberapa rekan-rekan wartawan masih banyak yang salah kaprah menilai tugas dan fungsi BPK. Dari beberapa pertanyaan para rekan wartawan, mereka menganggap BPK adalah lembaga penegak hukum yang bisa mengadili benar atau salah seorang pejabat atau instansi negara. 
Pertanyaan dari salah satu wartawan yang juga dimuat di situs berita mereka yaitu: BPK yang belum bersikap terkait sumbangan pihak ketiga yang masuk ke kas dearah, apakah termasuk sumbangan liar? Adakah regulasi yang mengatur hal tersebut?
Sebelum lebih jauh, mungkin perlu diingat lagi, tugas utama BPK adalah memeriksa pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan negara yang telah dipakai oleh suatu instansi atau lembaga negara. Apakah (secara akuntansi) pengelolaan keuangan tersebut sudah wajar  atau masih banyak penyimpangan transaksi yang terjadi. 
Jadi terkait…

Youtuber Cebong

Menjadi terkenal adalah puncak prestasi manusia saat ini. Masa bodoh bisa terkenal entah karena apa. Yup, ekspresi; bagi gue adalah metode yang paling rasional untuk bisa tenar. Menginterpretasikan diri kepada dunia dengan segala cara agar bisa dilihat, dicerca, disanjung atau apapun itu, peduli amatlah yang penting mereka tahu; gue ada titik.
Gue pikir cuma para badut pengamat politik aja yang bisa berekspresi bebas tanpa malu-malu, ternyata sebagian konten maker nan muda belia pun tidak kalah egoisnya. Alih-alih berkarya tapi kok yah sengaja untuk dipertentangkan, diperdebatkan dan berharap ada badut lain di planet sana yang coba mengomentari lalu mengerucut menjadi perang badut.
"hai, gue X video ini gue buat karena si anj*ng Y udah bla..bla..bla.. ke gue, jangan lupa like and subscribe yah" Maksud gue gini, kalo kalian punya masalah pribadi dengan orang, yah udah sih nggak usah dipublish. Membuat konten video dari konflik pribadi dengan bahasa yang cenderung kasar? Duh …