Langsung ke konten utama

Jakarta Terlalu Bising Untuk Menuju Kota Yang Beradab

Drama pemilihan tuan Gubernur mengerucut menjadi sentimen agama, bagaimana tidak? Berceloteh di  mimbar demokrasi menyinggung ayat-ayat Tuhan kepada mereka yang berbeda kelas sewaktu belajar agama dengan para Profesor penafsir ayat. Tak ubah seperti halnya mengajari anak-anak bermain game di gadget, karena yang mereka tahu hanya menggunakan tanpa harus tahu bagaimana permainan itu bisa ada.

Tuan Gubernur Jakarta, jangan terlalu memaksakan mimpimu membangun kota agar menjadi lebih sedap dipandang mata, kota yang bersih, indah dan tertata tanpa sempat memikirkan bagaimana membangun manusianya terlebih dahulu.

Dia lupa tentang Jakarta, kota yang terlalu bising untuk menuju kota beradab, bahkan sandal hilang di masjid saja, seluruh nusantara harus tahu berita itu.

Sudahlah tuan Gubernur, jangan memperkeruh!! Cita-citamu mungkin baik, menawarkan janji-janji masa depan kota yang modern, tapi kau lupa, kota itu dihuni oleh sebagian besar orang-orang yang hijrah dari desa, dengan kultur religius yang masih kental dengan sentimen agama dan hal-hal mistis, yang masih sibuk mengantri di bioskop demi film horor atau film komedi yang lucunya dipaksakan itu -ketimbang mengantri di toko buku.

Jadi tundalah sebentar sikap patriotismemu itu yang entah datang dari hati atau sengaja dibentuk oleh sekelompok orang tertentu atas nama kemajuan zaman.

Don't expect life to be fair, Governor!!

Komentar

  1. Menarik, asikk tulisannya omm, lanjutkan😉😉

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Setting Alarm Sistem Merk Yomiko

Tetiba seperangkat alat alarm sistem buat client sudah tiba di kantor, awalnya bingung bijimane setting nih barang. utak-atik jebret.. jebret.. akhirnya bisa juga. Sebelum masuk ke konfigurasi, saya jabarkan satu persatu deh nama dan fungsi dari tiap-tiap item.

Jeli Sebelum Mengadili

Di acara Media Relation yang diselenggarakan BPK Perwakilan Provinsi Kalimantan Tengah dengan tema "Mengawal Harta Negara" Kamis kemarin, saya menyaksikan beberapa rekan-rekan wartawan masih banyak yang salah kaprah menilai tugas dan fungsi BPK. Dari beberapa pertanyaan para rekan wartawan, mereka menganggap BPK adalah lembaga penegak hukum yang bisa mengadili benar atau salah seorang pejabat atau instansi negara. 
Pertanyaan dari salah satu wartawan yang juga dimuat di situs berita mereka yaitu: BPK yang belum bersikap terkait sumbangan pihak ketiga yang masuk ke kas dearah, apakah termasuk sumbangan liar? Adakah regulasi yang mengatur hal tersebut?
Sebelum lebih jauh, mungkin perlu diingat lagi, tugas utama BPK adalah memeriksa pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan negara yang telah dipakai oleh suatu instansi atau lembaga negara. Apakah (secara akuntansi) pengelolaan keuangan tersebut sudah wajar  atau masih banyak penyimpangan transaksi yang terjadi. 
Jadi terkait…

Youtuber Cebong

Menjadi terkenal adalah puncak prestasi manusia saat ini. Masa bodoh bisa terkenal entah karena apa. Yup, ekspresi; bagi gue adalah metode yang paling rasional untuk bisa tenar. Menginterpretasikan diri kepada dunia dengan segala cara agar bisa dilihat, dicerca, disanjung atau apapun itu, peduli amatlah yang penting mereka tahu; gue ada titik.
Gue pikir cuma para badut pengamat politik aja yang bisa berekspresi bebas tanpa malu-malu, ternyata sebagian konten maker nan muda belia pun tidak kalah egoisnya. Alih-alih berkarya tapi kok yah sengaja untuk dipertentangkan, diperdebatkan dan berharap ada badut lain di planet sana yang coba mengomentari lalu mengerucut menjadi perang badut.
"hai, gue X video ini gue buat karena si anj*ng Y udah bla..bla..bla.. ke gue, jangan lupa like and subscribe yah" Maksud gue gini, kalo kalian punya masalah pribadi dengan orang, yah udah sih nggak usah dipublish. Membuat konten video dari konflik pribadi dengan bahasa yang cenderung kasar? Duh …