Langsung ke konten utama

Kepada Masa Lalu, Saya Mau Lagi

Iyah, beberapa hari ini saya merasa hilang semangat untuk mau ngapa-ngapain. Jika dianggap saya ini terjebak oleh kondisi yang menjenuhkan, saya setuju. Rutinitas yang kurang dinamis, bersinggungan dengan orang-orang yang berbeda selera, diperparah dengan rasa kopi dari warung sebelah kantor yang kian hari kurang enak. Fiuuhh.

Mungkin disebabkan oleh semacam rindu akan masa lalu yang penuh gairah. Masa ketika satu sama lain memiliki ide yang sama untuk membuat sesuatu dari yang tidak ada menjadi ada.

Seperti, menulis, lalu ramai-ramai kami menjadikannya sebuah buku. Seni peran, lalu ramai-ramai kami menjadikannya suatu pertunjukan teater. Naik gunung, lalu ramai-ramai kami berkemas dan mendaki. Belajar, lalu ramai-ramai kami membuat robot. Robot sungguhan tentu saja, karena saya menggeluti ilmu Robotika dan Artificial Intelligence (kecerdasan buatan) sewaktu kampus Gunadarma masih jelek, sekarang sudah bagus.

Yah, mungkin saya sedang rindu itu semua.

Sebenarnya saya tidak benar-benar terjebak oleh kondisi yang pada kenyataannya memang saya harus ada untuk itu. "Kerja" Apalah itu? Selain hanya untuk membenturkan isi kepala pada dinding kapitalis yang monoton agar bisa terus hidup tanpa berkembang. Itu menurut saya, jika menurutmu tidak, artinya kamu lebih beruntung dari saya.

Imam besar The Panas Dalam pernah berfatwa
Mereka yang mengeluh, adalah mereka yang tidak mampu mengubah lingkungan
Kalimat yang cukup menohok, bukan?  Tetiba saya rindu sekaligus iri dengan teman saya, Akeda Bagus namanya, saya suka memanggilanya Gedex, dia tidak keberatan, saya apalagi. Dia masih konsisten dengan ilmu yang sama-sama kami pelajari di kampus, yang sekarang bisa menafkahi keluarga dan dirinya dan kabar terakhirnya dia ada di San Fransisco. Ooooh. Tidak mengira, mahasiswa seamat sangat nakal-dina itu bisa begitu jauhnya melancong.

Cukup!! Mari kerja, cari uang lagi yang banyak. Saya mau lanjut kuliah, Doakan!!

Komentar

  1. Baca judulnya udah baper aj.. hahaha ����

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Setting Alarm Sistem Merk Yomiko

Tetiba seperangkat alat alarm sistem buat client sudah tiba di kantor, awalnya bingung bijimane setting nih barang. utak-atik jebret.. jebret.. akhirnya bisa juga. Sebelum masuk ke konfigurasi, saya jabarkan satu persatu deh nama dan fungsi dari tiap-tiap item.

Jeli Sebelum Mengadili

Di acara Media Relation yang diselenggarakan BPK Perwakilan Provinsi Kalimantan Tengah dengan tema "Mengawal Harta Negara" Kamis kemarin, saya menyaksikan beberapa rekan-rekan wartawan masih banyak yang salah kaprah menilai tugas dan fungsi BPK. Dari beberapa pertanyaan para rekan wartawan, mereka menganggap BPK adalah lembaga penegak hukum yang bisa mengadili benar atau salah seorang pejabat atau instansi negara. 
Pertanyaan dari salah satu wartawan yang juga dimuat di situs berita mereka yaitu: BPK yang belum bersikap terkait sumbangan pihak ketiga yang masuk ke kas dearah, apakah termasuk sumbangan liar? Adakah regulasi yang mengatur hal tersebut?
Sebelum lebih jauh, mungkin perlu diingat lagi, tugas utama BPK adalah memeriksa pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan negara yang telah dipakai oleh suatu instansi atau lembaga negara. Apakah (secara akuntansi) pengelolaan keuangan tersebut sudah wajar  atau masih banyak penyimpangan transaksi yang terjadi. 
Jadi terkait…

Menuju Ibukota Negara

Melihat tim kajian dari pusat terkait pemilihan Kalimantan Tengah menjadi ibukota negara sepertinya akan terealisasi. Banyak nilai positif dari Kalimantan Tengah untuk dijadikan sebagai ibukota negara; struktur geografi yang memadai -baik dari sisi luas tanah maupun minimnya intensitas bencana. Namun yang utama adalah faktor sosial kemasyarakatan. Penduduk asli Kalimantan Tengah adalah orang yang terbuka kepada semua pendatang.
Namun saya juga memiliki ketakutan yang luar biasa terhadap hal tersebut. Bagi saya, pendidikan adalah menu utama kemajuan. Mereka yang tidak cukup pintar beradaptasi dengan perkembangan jaman maka akan berakhir di liang-liang sampah. Saya berkaca kepada penduduk asli Jakarta: Betawi yang tersingkir dan kian terpinggir; tergerus kemajuan pembangunan yang gila dan hedonis selama Jakarta menjadi ibukota negara.
Lebih jauh, bicara mengenai karakter, tidak semua orang -khususnya pendatang- mau memahami dan mengerti filosofi kearifan lokal. Tentang bagaimana seharu…