Langsung ke konten utama

Tentang Saya Yang Kemarin Ke Jakarta

Minggu kemarin ke Jakarta, bukan untuk urusan demo, meski ingin, tapi lebih keurusan menghamburkan uang yang tidak semestinya. Biaya sehat dan rindu itu memang mahal. Setidaknya begitu bagiku.

Oh yah, saya berkunjung ke Pluit, Luar Batang, tempat saya tumbuh dan dibesarkan dengan baik oleh ibu saya - yang sialnya tepat menjadi lokasi aksi ricuh sebagian massa yang menjarah dan merusak, tapi saya tegaskan, itu bukan dari warga atau teman-teman saya yang tinggal di Luar Batang, bahkan kami tidak tahu dari mana massa itu datang. Jika kalian menuduh kami bertindak anarkis dengan mencoba merusak rumah Pak Ahok, sebaiknya uji kembali cara anda bernalar. jika pun kami ingin, sudah dari kemarin kami lakukan ketika mencuat kasus reklamasi, tapi tidak, setidaknya tidak sekarang.

Betul, sikap sabar itu tidak ada batasnya, tapi tidak dengan batas toleransi.

Kami tegaskan, kami melawan bukan karena kami suka kekerasan, tapi lebih karena ingin membela hak kami, rumah kami, tanah kami, saudara kami, kami diperlakukan tidak manusiawi dan kami melawan, saya rasa itu wajar dan saya dengan sangat yakin, kalian pun akan melakukan hal sama seperti kami, ketika hak-hak kalian diambil paksa atas nama kemajuan pembangunan yang kerap menabrak undang-undang itu. Jika kalian tidak setuju, saya tidak peduli

Bahkan jika kembali ke tahun 1998 ketika terjadi kerusuhan etnis di Jakarta, kampung saya adalah tempat paling aman untuk para etnis Tionghoa bersembunyi, meski tidak dipungkiri saya juga ikut-ikutan aksi tersebut. Jangan menjustifikasi dulu, kala itu saya masih kecil, masih belum punya pacar, masih sok jagoan.

Saya besyukur, aksi demo kemarin berlangsung cukup aman, meski kami khawatir akan terulang kejadian 1998. Alhamdulillah, dari kacamata saya melihat, semua nampak tertib, dewasa dan terkendali, meski di twitter terlihat beberapa buzzer mencoba memprovokasi dengan segala macam cara agar demo itu rusuh, tujuannya jelas, agar di mata masyarakat Indonesia, Islam khususnya FPI terlihat sebagai kelompok yang radikal, namun alhamdulillah semua itu tidak terjadi. kasihan deh lu!!

Saat ini, kasus Pak Ahok sudah dilimpahkan ke Kepolisian, unjuk rasa pun sudah selesai, jadi berhenti memperdebatkan sesuatu yang tidak perlu. Mari menunggu, sambil nonton bola -jika suka. Hiduplah Liverpool.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Setting Alarm Sistem Merk Yomiko

Tetiba seperangkat alat alarm sistem buat client sudah tiba di kantor, awalnya bingung bijimane setting nih barang. utak-atik jebret.. jebret.. akhirnya bisa juga. Sebelum masuk ke konfigurasi, saya jabarkan satu persatu deh nama dan fungsi dari tiap-tiap item.

Jeli Sebelum Mengadili

Di acara Media Relation yang diselenggarakan BPK Perwakilan Provinsi Kalimantan Tengah dengan tema "Mengawal Harta Negara" Kamis kemarin, saya menyaksikan beberapa rekan-rekan wartawan masih banyak yang salah kaprah menilai tugas dan fungsi BPK. Dari beberapa pertanyaan para rekan wartawan, mereka menganggap BPK adalah lembaga penegak hukum yang bisa mengadili benar atau salah seorang pejabat atau instansi negara. 
Pertanyaan dari salah satu wartawan yang juga dimuat di situs berita mereka yaitu: BPK yang belum bersikap terkait sumbangan pihak ketiga yang masuk ke kas dearah, apakah termasuk sumbangan liar? Adakah regulasi yang mengatur hal tersebut?
Sebelum lebih jauh, mungkin perlu diingat lagi, tugas utama BPK adalah memeriksa pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan negara yang telah dipakai oleh suatu instansi atau lembaga negara. Apakah (secara akuntansi) pengelolaan keuangan tersebut sudah wajar  atau masih banyak penyimpangan transaksi yang terjadi. 
Jadi terkait…

Menuju Ibukota Negara

Melihat tim kajian dari pusat terkait pemilihan Kalimantan Tengah menjadi ibukota negara sepertinya akan terealisasi. Banyak nilai positif dari Kalimantan Tengah untuk dijadikan sebagai ibukota negara; struktur geografi yang memadai -baik dari sisi luas tanah maupun minimnya intensitas bencana. Namun yang utama adalah faktor sosial kemasyarakatan. Penduduk asli Kalimantan Tengah adalah orang yang terbuka kepada semua pendatang.
Namun saya juga memiliki ketakutan yang luar biasa terhadap hal tersebut. Bagi saya, pendidikan adalah menu utama kemajuan. Mereka yang tidak cukup pintar beradaptasi dengan perkembangan jaman maka akan berakhir di liang-liang sampah. Saya berkaca kepada penduduk asli Jakarta: Betawi yang tersingkir dan kian terpinggir; tergerus kemajuan pembangunan yang gila dan hedonis selama Jakarta menjadi ibukota negara.
Lebih jauh, bicara mengenai karakter, tidak semua orang -khususnya pendatang- mau memahami dan mengerti filosofi kearifan lokal. Tentang bagaimana seharu…