Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

Jeli Sebelum Mengadili

Di acara Media Relation yang diselenggarakan BPK Perwakilan Provinsi Kalimantan Tengah dengan tema "Mengawal Harta Negara" Kamis kemarin, saya menyaksikan beberapa rekan-rekan wartawan masih banyak yang salah kaprah menilai tugas dan fungsi BPK. Dari beberapa pertanyaan para rekan wartawan, mereka menganggap BPK adalah lembaga penegak hukum yang bisa mengadili benar atau salah seorang pejabat atau instansi negara. 
Pertanyaan dari salah satu wartawan yang juga dimuat di situs berita mereka yaitu: BPK yang belum bersikap terkait sumbangan pihak ketiga yang masuk ke kas dearah, apakah termasuk sumbangan liar? Adakah regulasi yang mengatur hal tersebut?
Sebelum lebih jauh, mungkin perlu diingat lagi, tugas utama BPK adalah memeriksa pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan negara yang telah dipakai oleh suatu instansi atau lembaga negara. Apakah (secara akuntansi) pengelolaan keuangan tersebut sudah wajar  atau masih banyak penyimpangan transaksi yang terjadi. 
Jadi terkait…

Youtuber Cebong

Menjadi terkenal adalah puncak prestasi manusia saat ini. Masa bodoh bisa terkenal entah karena apa. Yup, ekspresi; bagi gue adalah metode yang paling rasional untuk bisa tenar. Menginterpretasikan diri kepada dunia dengan segala cara agar bisa dilihat, dicerca, disanjung atau apapun itu, peduli amatlah yang penting mereka tahu; gue ada titik.
Gue pikir cuma para badut pengamat politik aja yang bisa berekspresi bebas tanpa malu-malu, ternyata sebagian konten maker nan muda belia pun tidak kalah egoisnya. Alih-alih berkarya tapi kok yah sengaja untuk dipertentangkan, diperdebatkan dan berharap ada badut lain di planet sana yang coba mengomentari lalu mengerucut menjadi perang badut.
"hai, gue X video ini gue buat karena si anj*ng Y udah bla..bla..bla.. ke gue, jangan lupa like and subscribe yah" Maksud gue gini, kalo kalian punya masalah pribadi dengan orang, yah udah sih nggak usah dipublish. Membuat konten video dari konflik pribadi dengan bahasa yang cenderung kasar? Duh …

Lu Kan Anak IT

Duh, memang jadi beban moral yah bagi para penggiat IT yang hidup di lingkungan non IT, karena setiap kerjaan yang terkait dengan komputer selalu disematkan ke anak IT. Apapun itu, entah printer rusak, komputer rusak, desain grafis, editing film, jaringan internet lemot, ngubah tampilan website, database eror, ngehack si anu, sound sistem gak jernih, sampe-sampe masang colokan listrik aja manggilnya ke anak IT. Bener-bener merepotkan!!

Maksudnya begini, bidang IT itukan luas dan gak semua anak IT ngerti semua bidang IT. Contohnya dalam bidang jaringan komputer -itu aja terbagi-bagi substansinya, ada yang jago radio wireless, ada yang ahli security system, ada yang pakar struktur cabling, ada yang demen make Mikrotik, ada yang doyan Cisco, macem-macem deh, dan itu baru disatu bidang: jaringan komputer. Belum bidang lain yang lebih luas: Internet, duh, yah website, hacking, aplikasi online. Belum lagi ketemu pemrogaraman komputer yang punya segudang substansi bahasa pemrograman. Ada lag…

Merdeka Kau Perut !!

Charlie Caplin pernah ngomong "We Think too Much and Fell too Little"

Dua tempurung kepala, dua otak dan dua pemikiran - itu bikin bingung kaki dan tangan karena kerjanya bisa dua kali bahkan lebih tergantung seragam kegiatan apa yang dikenakan pada saat memberi perintah, yang lebih enak perut, pura-pura budeg, disuruh ini; nggak bisa, disuruh itu; nggak bisa, yang pentingkan keisi. Soal dicap dongo sama yang laen -ah itu bukan perkara penting. Makan kenyang, minum gratis, ngantuk cari tempat sepi, tidur deh, toh nggak ada yang nyariin juga.

Seranai tugas kaki dan tangan yang udah oveload tidak menjamin dapat rewards ekstra, dapet sepatu misalnya agar kulit tidak lecet, tapi yah memang sudah tugasnya begitu, mau bagaimana lagi? Mau berubah jadi perut tapi apa lacur kadung diciptakan jadi kaki tangan.

Hati yang konon bijaksana mungkin lagi pulas tertidur di gorong-gorong WC, ada -tapi bisu terbungkam mimpi surgawi.

Emangnya ML!!

Kalo ada yang bilang "ngebantu orang jangan pilih-pilih!" sambelin aja mulutnya. Bantu orang musti pilih-pilih, before you help, think!! Karena gak semua orang tau bagaimana cara berterima kasih. Bukan maksud untuk ngajarin egois, atau anti sosial, tapi gue ngajarin untuk nggak usah sok hero, atau gaya-gayaan -kalo nyatanya kita sendiri butuh untuk dibantu.

Sering gak sih nemuin orang yang suka manfaatin "ketidak-enakan" kita? Gue sih sering, alih-alih curhat, mencari empati, lalu kita bantu tapi endingnya malah pura-pura bego ketika diminta bantu balik. Apalagi perkara duit, haduuh .... kalo ada temen minjem duit, sesekali dibantu okelah, tapi kalo keseringan mending pura-pura mati aja, dari pada sama-sama gak enak ke depannya.

--juga tentang masalah kerjaan, kalo dimintain tolong ngerjain sesuatu yang kita gak bener-bener ngerti, mending tolak!! Jangan kita forward ke temen yang kita udah tahu track record kerjaannya amburadul, itu sama aja bunuh diri.

Pinter-pin…

Dua yang Hilang: Kambing & Akal

Saya heran, kenapa pemerintah daerah yang itu -begitu memaksakan pabrik semen harus dibangun, sebegitu pentingkah pabrik semen ketimbang lahan bertani? Kenapa musti memaksakan pembangunan? Apa salahnya menjadi desa? Melihat anak-anak berlarian di pematang sawah yang sesekali bermandi lumpur dibalut udara sore yang wangi.

Statement "pembela wong cilik" sepertinya parau tersedak dokumen, tuli tersumbat angka-angka, birokrasi keadilan dilempar sana-sini, buta melihat rakyat pemilihnya dipasung semen lalu mati membela bumi.

Saya sedih ketika negara ini mengucapkan duka cita yang dalam terhadap korban teror di London namun bisu terhadap Ibu Patmi yang meregang nyawa membela haknya, lahannya bertani adalah juga bagian dari Indonesia bukan?

Mengutip Prof Rocky Gerung di akun twitternya "Di istana ada dua yang hilang: kambing dan akal" begitu paradoks, begitulah adanya.

Elu Pada Ngertikan Maksud Gue?

Karma is Real !!

Jadi kalo liat para pegawai kantoran yang: berkemeja, celana bahan, sepatu hitam mengkilat, duduk tenang di balik meja dengan taburan kertas di atasnya, sejuk dalam naungan AC itu mirip manequin, setidaknya dulu begitu yang gue lihat, terlalu simple, dimana serunya kerja seperti itu?

Sekarang, gue merasakannya.

Sepuluh tahun terakhir menyemat gelar teknisi serba bisa, begitu kata sih kata mereka *tsah kibas poni dan sekarang sudah empat belas hari nggak megang obeng, tidak bersentuhan dengan kabel, tidak mencium aroma keringat rekan kerja dan tidak bisa selonjoran di atas tanah rasanya seperti ada jiwa yang hilang *oke ini lebay.

Intinya sih, jangan ngejudge sebelum ngalamin sendiri, dan, oke gue keliru, kerja kantoran tidak sesimple itu, perlu tempurung kepala yang agak besar untuk bisa jadi pegawai kantoran, maksudnya gini:

Gue dituntut untuk bisa berfikir lebih efisien dan terbuka -sebab tidak bisa menilai sesuatu dari sudut pandang gue aja. Contoh: jika gue lihat …