Langsung ke konten utama

Jeli Sebelum Mengadili

Di acara Media Relation yang diselenggarakan BPK Perwakilan Provinsi Kalimantan Tengah dengan tema "Mengawal Harta Negara" Kamis kemarin, saya menyaksikan beberapa rekan-rekan wartawan masih banyak yang salah kaprah menilai tugas dan fungsi BPK. Dari beberapa pertanyaan para rekan wartawan, mereka menganggap BPK adalah lembaga penegak hukum yang bisa mengadili benar atau salah seorang pejabat atau instansi negara. 

Pertanyaan dari salah satu wartawan yang juga dimuat di situs berita mereka yaitu: BPK yang belum bersikap terkait sumbangan pihak ketiga yang masuk ke kas dearah, apakah termasuk sumbangan liar? Adakah regulasi yang mengatur hal tersebut?

Sebelum lebih jauh, mungkin perlu diingat lagi, tugas utama BPK adalah memeriksa pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan negara yang telah dipakai oleh suatu instansi atau lembaga negara. Apakah (secara akuntansi) pengelolaan keuangan tersebut sudah wajar  atau masih banyak penyimpangan transaksi yang terjadi. 

Jadi terkait sumber dana yang masuk ke kas daerah, BPK tidak bisa serta merta mengatakan boleh atau tidak boleh hal tersebut dilakukan, kenapa? karena bukan ranah BPK untuk mengatur hal tersebut. Adapun jika ada indikasi gratifikasi maka bisa langsung dilaporkan ke penegak hukum. Salah satu peran BPK yaitu mengawal harta negara yang dipakai oleh suatu instansi negara, apakah sudah akuntabel dan merujuk pada undang-undang atau belum. 

Output dari hasil pemeriksaan tersebut adalah apakah pengelolaannya sudah wajar atau tidak wajar; bukan apakah sudah benar atau salah. Karena yang bisa menentukan benar atau salah adalah penegak hukum, sedang BPK bukanlah lembaga penegakan hukum. Jadi, jika temuan-temuan BPK terkait pengelolaan keuangan negara dianggap sebagai fakta hukum, itu juga belum tentu benar, karena tidak semua temuan BPK dalam pemeriksaannya mengerucut pada korupsi, bisa saja terjadi karena kesalahan perhitungan atau kekeliruan dalam transaksi pembelian, untuk itu BPK kerap merekomendasikan hasil temuan tersebut kepada instansi negara yang diperiksanya. Misal, suatu aset X dibeli oleh salah satu instansi negara pada tahun sekian dengan harga sekian, sedangkan hasil audit  BPK menyatakan harga aset X tersebut seharusnya dibeli dengan harga sekian pada tahun sekian, untuk itu BPK merekomendasikan pengembalian uang hasil pembelian dari aset X tersebut ke kas negara sehingga aset X tersebut menjadi harga pasar yang wajar. jika tidak ada tindak lanjutnya, baru bisa dianggap terjadi penyelewengan uang negara.

Selain itu BPK kerap melakukan audit investigasi terhadap suatu perkara tertentu, bukti-bukti dari hasil investigasi tersebut baru bisa dijadikan fakta hukum di persidangan terkait indikasi korupsi atau tidaknya suatu perkara.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Setting Alarm Sistem Merk Yomiko

Tetiba seperangkat alat alarm sistem buat client sudah tiba di kantor, awalnya bingung bijimane setting nih barang. utak-atik jebret.. jebret.. akhirnya bisa juga. Sebelum masuk ke konfigurasi, saya jabarkan satu persatu deh nama dan fungsi dari tiap-tiap item.

Dua yang Hilang: Kambing & Akal

Saya heran, kenapa pemerintah daerah yang itu -begitu memaksakan pabrik semen harus dibangun, sebegitu pentingkah pabrik semen ketimbang lahan bertani? Kenapa musti memaksakan pembangunan? Apa salahnya menjadi desa? Melihat anak-anak berlarian di pematang sawah yang sesekali bermandi lumpur dibalut udara sore yang wangi.

Statement "pembela wong cilik" sepertinya parau tersedak dokumen, tuli tersumbat angka-angka, birokrasi keadilan dilempar sana-sini, buta melihat rakyat pemilihnya dipasung semen lalu mati membela bumi.

Saya sedih ketika negara ini mengucapkan duka cita yang dalam terhadap korban teror di London namun bisu terhadap Ibu Patmi yang meregang nyawa membela haknya, lahannya bertani adalah juga bagian dari Indonesia bukan?

Mengutip Prof Rocky Gerung di akun twitternya "Di istana ada dua yang hilang: kambing dan akal" begitu paradoks, begitulah adanya.

Elu Pada Ngertikan Maksud Gue?

Karma is Real !!

Jadi kalo liat para pegawai kantoran yang: berkemeja, celana bahan, sepatu hitam mengkilat, duduk tenang di balik meja dengan taburan kertas di atasnya, sejuk dalam naungan AC itu mirip manequin, setidaknya dulu begitu yang gue lihat, terlalu simple, dimana serunya kerja seperti itu?

Sekarang, gue merasakannya.

Sepuluh tahun terakhir menyemat gelar teknisi serba bisa, begitu kata sih kata mereka *tsah kibas poni dan sekarang sudah empat belas hari nggak megang obeng, tidak bersentuhan dengan kabel, tidak mencium aroma keringat rekan kerja dan tidak bisa selonjoran di atas tanah rasanya seperti ada jiwa yang hilang *oke ini lebay.

Intinya sih, jangan ngejudge sebelum ngalamin sendiri, dan, oke gue keliru, kerja kantoran tidak sesimple itu, perlu tempurung kepala yang agak besar untuk bisa jadi pegawai kantoran, maksudnya gini:

Gue dituntut untuk bisa berfikir lebih efisien dan terbuka -sebab tidak bisa menilai sesuatu dari sudut pandang gue aja. Contoh: jika gue lihat …